Berita

Safety Riding WP-iTV STMIK WP Pekalongan pada acara MAKRAB III TV club 6

Tanggal: 14/03/2018

Pada Acara ini juga Bapak Budi Selaku Kanit Dikyasa Sat Lantas Polres Pekalongan Kota Menyampaikan "Bahwa STMIK Widya Pratama Perguruan tinggi Pertama yang di jadikan contoh sebagai Perguruan tinggi yang Peduli akan keselamatan berkendara dan dijadikan pelopor keselamatan berkendara". "Keselamatan berkendara bagi kalangan Mhasiswa sangat penting demi kemajuan bangsa"

Selengkapnya ...

Pendiri WhatsApp Keluarkan Rp 684 Miliar untuk Aplikasi Chat Pesaing

Tanggal: 24/02/2018

KOMPAS.com - Salah satu pendiri WhatsApp, Brian Acton, menggelontorkan dana 50 juta dollar AS atau setara Rp 684 miliar ke Signal. Tujuannya mempromosikan pentingnya pesan terenkripsi agar menjamur di mana-mana. Diketahui, Signal adalah perusahaan yang dibentuk atas semangat perlindungan privasi. Salah satu divisinya, “Signal Protocol”, dirancang untuk menciptakan sistem anti-pengintaian yang saat ini digunakan beberapa aplikasi terenkripsi semacam WhatsApp, Facebook Messenger, dan Skype. Layanan inti dari Signal sendiri adalah aplikasi pesan singkat “Signal Messenger”. Karenanya, meski turut memasok sistem keamanan bagi WhatsApp dkk, Signal bisa dibilang sebagai kompetitor. Brian Acton pun menggelontorkan dana ke Signal karena ia telah meninggalkan WhatsApp sejak tahun lalu. Pasca hengkang, ia memang semakin dekat dan terlibat dengan Signal. Dalam waktu dekat, Brian Acton bakal menjabat sebagai presiden direktur “Signal Foundation”. Lembaga non-profit di bawah naungan Signal itu fokus meningkatkan performa Signal Messenger. “Semakin jauh hidup kita terjadi secara online, proteksi data dan privasi sangat kritikal,” kata Brian Acton, sebagaimana dihimpun KompasTekno, Jumat (23/2/2018), dari TechTimes. “Semua orang layak dilindungi. Kami menciptakan Signal Foundation sebagai respons yang dibutuhkan dunia global,” ia menambahkan. Dana Rp 684 miliar yang digelontorkan Brian Acton diharapkan mampu memperluas ruang gerak Signal. Perusahaan tersebut bakal merekrut lebih banyak orang, meningkatkan kapasitas, dan memasang target lebih ambisius.

Selengkapnya ...

Berapa Jumlah Pengguna Internet Indonesia?

Tanggal: 23/02/2018

KOMPAS.com - Populasi penduduk Indonesia saat ini mencapai 262 juta orang. Lebih dari 50 persen atau sekitar 143 juta orang telah terhubung jaringan internet sepanjang 2017, setidaknya begitu menurut laporan teranyar Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia ( APJII). Mayoritas pengguna internet sebanyak 72,41 persen masih dari kalangan masyarakat urban. Pemanfaatannya sudah lebih jauh, bukan hanya untuk berkomunikasi tetapi juga membeli barang, memesan transportasi, hingga berbisnis dan berkarya. Berdasarkan wilayah geografisnya, masyarakat Jawa paling banyak terpapar internet yakni 57,70 persen. Selanjutnya Sumatera 19,09 persen, Kalimantan 7,97 persen, Sulawesi 6,73 persen, Bali-Nusa 5,63 persen, dan Maluku-Papua 2,49 persen. Usia muda, banyak inovasi Internet tak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari anak muda zaman sekarang. Sebanyak 49,52 persen pengguna internet di Tanah Air adalah mereka yang berusia 19 hingga 34 tahun. Kelompok ini mengabsahkan profesi-profesi baru di ranah maya, semisal Selebgram (selebritas Instagram) dan YouTuber (pembuat konten YouTube). Menjamurnya perusahaan rintisan digital atau startup pun sedikit banyak digerakan oleh kelompok usia ini, baik mereka sebagai pendiri atau konsumen. Di posisi kedua, sebanyak 29,55 persen pengguna internet Indonesia berusia 35 hingga 54 tahun. Kelompok ini berada pada usia produktif dan mudah beradaptasi dengan perubahan. Remaja usia 13 hingga 18 tahun menempati posisi ketiga dengan porsi 16,68 persen. Terakhir, orang tua di atas 54 tahun hanya 4,24 persen yang memanfaatkan internet. Tingkat pendidikan dan level ekonomi Selain usia, faktor pendidikan memengaruhi penetrasi internet di Indonesia. Sebanyak 88,24 dari mereka yang menggenggam gelar S2 dan S3 terhubung dengan internet. Mayoritas lulusan S1 dan Diploma juga telah menggunakan internet, yakni sebanyak 79,23 persen. Di beberapa universitas dan akademi kejuruan, internet memang telah menjadi bagian penting dari proses belajar-mengajar. Contohnya, tugas dan ujian dikumpulkan lewat e-mail, bukan lagi berbentuk kertas. Mencari referensi pun kerap dari jurnal online atau e-Book, bukan buku-buku fisik. Dalam proses administrasi seperti pengambilan mata kuliah, evaluasi dosen, hingga survey di kampus juga sudah terhubung ke sistem online. Untuk yang tingkat pendidikannya sampai SMA/MA/Paket C, SMP/MTs/Paket B, SD/MI/Paket A, dan yang tidak sekolah, persentase pengguna internetnya secara berurutan 70,54 persen, 48,53 persen, 25,10 persen, dan 5,45 persen. Dari level ekonomi juga bisa dibedakan, di mana mayoritas pengguna internet berasal dari kelas menengah ke bawah. Dari 143 juta masyarakat Indonesia yang sudah terkoneksi internet, ada sekitar 62,5 juta masyarakat kelas menengah ke bawah yang menggunakan internet. Sedangkan masyarakat kelas atas sebesar 2,8 juta jiwa. Dalam survei ini, APJII menggunakan 2.500 responden dengan margin of error +- 1,96 persen dan level of confidence 95 persen. Pengumpulan data ini melalui wawancara dengan bantuan kuisioner. Responden berasal dari enam wilayah Indonesia, yakni Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali-Nusa, dan Maluku-Papua. APJII menggunakan metodologi multi stage cluster sampling, yakni urban, rural-urban, dan rural. Survei dengan metodologi ini diklaim bisa mengetahui persoalan yang dihadapi terkait penetrasi internet di Indonesia.

Selengkapnya ...

Update Windows 10 Paksa Pengguna Serahkan Data Nomor HP

Tanggal: 04/01/2018

KOMPAS.com - Update terbaru OS Windows 10 (build 17063) memaksa pengguna memasukkan data nomor handphone (HP), tanpa memberi opsi untuk melewatinya. Jika data nomor telepon tidak dimasukkan, maka proses update tidak bisa dilanjutkan. Ketika melakukan instalasi versi terbaru, akan muncul sebuah pemberitahuan pada layar yang meminta pengguna untuk memasukkan nomor ponsel. Tujuannya adalah untuk menghubungkan perangkat PC dengan smartphone yang dimiliki, memberikan pengalaman seamless saat pengguna beralih dari gadget mobile ke desktop. Celakanya, pilihan tersebut tidak bisa dilewatkan oleh pengguna, sebab Microsoft tidak menyediakan tombol Skip. Alhasil, instalasi tak akan dilanjutkan jika pengguna tidak memasukkan nomor ponselnya. Di versi sebelumnya, proses ini masih bisa dilewati. Jika kolom nomor ponsel diisi, Microsoft akan mengirim pesan singkat (SMS). Pesan tersebut berisi tautan yang akan menghubungkan perangkat dengan ponsel milik pengguna. Berdasarkan informasi yang dihimpun KompasTekno dari Phone Arena, Kamis (4/1/2018), banyak yang berpendapat bahwa tidak tersedianya pilihan untuk melewati proses itu disebabkan karena masalah teknis. Sebuah asumsi menyebutkan bahwa tombol skip sebetulnya ada, namun tidak muncul di versi update Windows 10 build 17063, karena suatu dan lain hal, seperti kesalahan pemrograman dan sebagainya. Namun benar atau tidaknya asumsi tersebut masih simpang siur, sebab hingga berita ini ditayangkan, Microsoft belum memberikan pernyataan resmi.

Selengkapnya ...

‹ First  < 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 >  Last ›