Berita

3 Juta Sikat Gigi Pintar Diretas untuk Serangan DDoS

Tanggal: 12/02/2024

KOMPAS.com - Sekitar tiga juta sikat gigi pintar (smart toothbrush) dilaporkan diretas oleh para hacker. Jutaan sikat gigi tersebut digunakan untuk membanjiri suatu layanan online dengan trafik kunjungan yang tidak wajar, sehingga situs tersebut menjadi lemot dan tidak bisa diakses. Serangan semacam ini disebut sebagai distributed denial of service (DDoS). Peretasan sikat gigi pintar tersebut pertama kali dilaporkan oleh firma keamanan siber bernama Fortinet, yang kemudian diberitakan oleh koran Swiss Aargauer Zeitung. Menurut laporan itu, peretasan smart toothbrush tersebut menargetkan sebuah situs perusahaan asal Swiss. Prosesnya, hacker mendapatkan akses pada jaringan sikat gigi tersebut, kemudian mengubahnya menjadi botnet, meskipun sikat gigi pintar sejatinya digunakan untuk melacak dan meningkatkan kebiasaan pengguna dalam menjaga kebersihan mulut. Botnet merupakan sekumpulan program yang terinfeksi oleh software berbahaya (malicious software/malware) dan terhubung ke internet, yang berada di kendali pihak tertentu, dalam hal ini adalah hacker. Nah, jaringan itu lah yang kemudian digunakan untuk melancarkan serangan DDoS ke situs perusahaan. Serangan ini dilakukan untuk membanjiri situs web dengan trafik palsu dari jaringan komputer yang terinfeksi bot. Akibatnya, situs perusahaan Swiss tersebut tidak bisa dibuka selama beberapa jam.
Peretasan ini dilaporkan menyebabkan kerugian finansial senilai jutaan Euro bagi perusahaan itu. Adapun 1 juta euro kira-kira bernilai Rp 16,8 miliar (asumsi 1 euro = Rp 16.842). Laporan tersebut tidak mengumbar siapa pihak yang melakukan serangan, perusahaan apa yang menjadi korban peretasan, dan apa merek sikat gigi pintar yang digunakan untuk melakukan hack. Tidak diketahui juga apa motif di balik serangan DDoS tersebut. Namun, umumnya serangan DDoS dilakukan peretas untuk memeras uang korban. Dilaporkan, sikat gigi pintar tersebut rentan terhadap peretasan karena sistem operasinya (OS) yang berbasis Java. Java diketahui memang memiliki sejumlah kerentanan yang bisa disalahgunakan kriminal siber, misalnya untuk injeksi kode berbahaya. Perangkat IoT bisa disalahgunakan Insiden ini menunjukkan bahwa komputer dan produk internet of things (IoT) yang terkoneksi dengan internet, misalnya sikat gigi elektrik dan monitor/CCTV bayi, bisa disalahgunakan. Dalam sebuah eksperimen, Stefan Zuger dari Fortinet cabang Swiss menghubungkan komputer yang tidak dilindungi anti-virus dengan internet. Komputer ini pun disusupi malware dalam waktu 20 menit, sehingga menggambarkan kecepatan ancaman siber. Zuger pun membagikan sejumlah tips agar pengguna bisa melindungi perangkatnya dari peretasan DDoS. Zuger merekomendasikan pengguna selalu memperbarui software semua perangkat IoT dengan patch keamanan otomatis. Selain itu, pengguna juga bisa memanfaatkan software anti-virus untuk mendeteksi lonjakan penggunaan daya dan data yang tidak biasa. Hal ini dapat dimanfaatkan untuk mencegah infeksi malware, sebagaimana dikutip KompasTekno dari GizmoChina, Jumat (9/2/2024).

Selengkapnya ...

Apple Bikin MGIE, AI Pengolah Gambar Penantang Midjourney

Tanggal: 12/02/2024

KOMPAS.com - Saat ini, banyak produk (tool) kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang bisa memanipulasi suatu foto atau gambar. Seperti Stable Diffusion, Midjourney, DALL-E 3, dan lain sebagainya. Apple pun tak mau ketinggalan. Apple membuat tools AI bikinan sendiri untuk menjalankan fungsi tersebut bernama MGIE (Multimodal large language models (MLLM) Guided Image Editing). Produk AI berupa MLLM ini merupakan kolaborasi Apple dengan para peneliti Universitas California, Santa Barbara, Amerika Serikat (AS). Hasil kerja sama Apple dan Universitas California Santa Barbara ini dituangkan dalam sebuah laporan makalah yang dipresentasikan dalam ajang International Conference on Learning Representations (ICLR) 2024. Konon, ICRL 2024 merupakan salah satu konferensi besar tentang AI dan hal lainnya yang berkaitan dengan teknologi tersebut. Kembali ke MGIE tadi, Apple menyebut bahwa ini merupakan tool AI Image Generator yang bisa membuat kegiatan edit foto lebih mudah dan interaktif, tentunya lewat serangkaian kata atau perintah yang dimasukkan pengguna. Dengan MGIE, Apple mengatakan, pengguna bisa memakai bahasa natural yang spesifik dan ekspresif, supaya AI bisa membuat gambar akurat seperti apa yang pengguna mau. Kemudian, pengguna juga bisa memberikan saran atau feedback kepada MGIE supaya tool AI tersebut bisa "lebih pintar", serta bisa mengintegrasikan MGIE dengan aplikasi lain tergantung fungsi dan kepentingan pengguna. Pada prosesnya, MGIE sederhananya memungkinkan AI mengedit foto sesuai dengan perintah teks yang dimasukkan pengguna. Di gambar yang ada di sebelah kiri atas, misalnya, pengguna bisa memerintah MGIE untuk mengedit foto makanan berupa pizza supaya ditaburi sayuran. Selain itu, pengguna juga bisa meminta MGIE untuk menghapus obyek dari sebuah foto, membuat foto menjadi lebih terang, hinga mengubah warna dari sebuah obyek yang ada dalam foto. Belum diketahui kapan MGIE akan dirilis secara publik. Tak disebutkan juga apakah tool AI ini akan disematkan ke dalam berbagai produk Apple, seperti iPhone atau iPad, atau tidak. Namun yang jelas, tool AI ini  bersifat open source dan tersedia di GitHub, sehingga pengguna atau pengembang (developer) lain bisa berkontribusi atau menggunakannya dengan bebas, sebagaimana dirangkum KompasTekno dari VentureBeat, Senin (12/2/2024).

Selengkapnya ...

LPDP Tambah 7 Beasiswa Prioritas 2024, Apa Saja Itu?

Tanggal: 12/01/2024

KOMPAS.com - Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) 2024 menambah beasiswa prioritas sebagai pilihan calon mahasiswa.  Beasiswa prioritas adalah program kuliah S2 dan S3 ke luar negeri yang memberikan kesempatan kepada peserta untuk dapat mendaftar pada dua jenis beasiswa sekaligus. Dalam beasiswa prioritas, ada enam kampus luar negeri yang bisa dipilih, yakni Nanyang Technology University (NTU) dan National University of Singapura (NUS) dari Singapura. Lalu ada Campus France dari Prancis.Kemudian ada Universitas California Davis (UC Davis) dari negara bagian Amerika Serikat, University of New South Wales atau UNSW di Australia, dan kampus di Belanda yang masuk dalam daftar The Orange Knowledge Program (OKP).

Selengkapnya ...

 < 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 >  Last ›