STMIK Widya Pratama Activities

Acara terkini

Berita terkini

Bursa Kerja ke 9 STMIK Widya Pratama Pekalongan

Tanggal: 13/03/2020

Student Career Center (SCC) STMIK Widya Pratama pekalongan mengadakan Bursa Kerja yang ke 9 pada Hari Rabu 11 Maret 2020 yang bertempat di Aula Gedung C STMIK WIDYA PRATAMA Pekalongan. Acara ini dibuka langsung oleh Kepala Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Dinperinaker) Kota Pekalongan SLAMET HARYADI, SH, M.Hum. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari pada tanggal 11 sampai dengan 12 Maret 2020 dan gratis terbuka untuk umum. Sebanyak 27 Perusahaan berpartisipasi yang menawarkan  620 lowongan kerja  

Selengkapnya ...

Ada 196 Hoaks, Salah Satunya Jackie Chan Kena Corona

Tanggal: 13/03/2020

Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) merilis setidaknya ada 17 konten negatif hoaks dan disinformasi terkait virus corona novel (SARS-Cov-2). Artinya, mesin pengais konten negatif milik Kemenkominfo telah berhasil menjaring 196 konten hoaks dan disinformasi sejak bulan Januari lalu. Di antara 196 konten itu, kabar yang menyebutkan pemeran utama film Harry Potter yaitu Daniel Radcliffe dan aktor lawas asal China, Jackie Chan positif terjangkit virus corona.

Selengkapnya ...

Bill Gates Buat Alat Deteksi Corona Tanpa Perlu Keluar Rumah

Tanggal: 13/03/2020

Jakarta, CNN Indonesia -- Yayasan Bill dan Melinda Gates bakal menggelontorkan dana sebanyak US$100 juta untuk melawan virus corona (Covid-19) yang telah mewabah Amerika Serikat, khususnya di Kota Seattle, Washington. Salah satu program yang akan dilakukan oleh yayasan itu adalah menyediakan tes kit virus corona bagi warga yang tinggal di wilayah Seattle, lokasi kantor pusat yayasan tersebut berada. Pemimpin respon virus corona di yayasan Bill dan Melinda Gates, Scott Dowell mengatakan tujuan dari proyek itu adalah untuk mempermudah warga Seattle memeriksa dirinya tanpa perlu pergi keluar rumah. Mereka yang khawatir terinfeksi hanya perlu mengirim sampel dengan cara menyeka hidung untuk diuji. Melansir Business Insider, hasil pengujian akan keluar dalam satu atau dua hari. Jika dinyatakan positif, warga yang mengirim sampel tersebut dapat mengisi formulir online yang berisi pertanyaan tentang aktifitas sebelum terinfeksi guna melacak penyebaran penyakit. Belum jelas kapan proyek pengujian virus corona di rumah akan diluncurkan. Namun, yayasan telah bergerak cepat untuk memutakhirkan perangkat lunaknya dan menyelesaikan kuesioner daringnya untuk mempersiapkan gelombang permintaan atas alat tersebut. "Meskipun ada banyak hal yang harus diselesaikan, ini memiliki potensi yang sangat besar untuk mengubah gelombang epidemi," kata Dowell. Selain untuk menciptakan tes kit, dana US$100 juta juga telah digunakan penelitian vaksin, langkah-langkah pencegahan, hingga upaya pengobatan di seluruh dunia. Melansir Tech Crunch, yayasan milik Bill Gates bukan satu-satunya yang mengembangkan alat tersebut. Pengusaha perawatan kesehatan Jonathan Rothenberg dikabarkan melakukan pendekatan yang sama dan tampaknya sekarang sedang dalam diskusi dengan produsen agar bisa  membawanya ke pasar. Seattle dan daerah sekitarnya telah menjadi pusat penyebaran virus corona di Amerika Serikat. Negara bagian itu telah mengkonfirmasi 71 kasus dan 15 kematian akibat penyakit tersebut. Berdasarkan pemodelan komputasi, seorang ahli kesehatan memperkirakan bahwa Seattle dapat memiliki 600 kasus. "Salah satu hal terpenting dari sudut pandang kami setelah menyaksikan dan mengerjakan ini di bagian lain dunia adalah identifikasi orang-orang yang positif terhadap virus. Sehingga mereka dapat dengan aman diisolasi dan dirawat dan identifikasi dari kontak mereka yang kemudian dapat dikarantina," kata Dowell.

Selengkapnya ...

Susul AS, Jepang dan China Ikut Bikin Satelit Internet Mini

Tanggal: 13/03/2020

Jakarta, CNN Indonesia -- Hawa kompetisi untuk membangun konstelasi satelit internet ikut terbawa ke Asia. Sebab, baru-baru ini Jepang menyusul langkah China dan Amerika Serikat (AS) untuk meluncurkan satelit-satelit internet. Pekan lalu, layanan ecommerce asal Jepang, Rakuten mengumumkan telah membeli saham perusaaan asal AS, AST & Science. Perusahaan yang berbasis di Texas ini berencana untuk membangun jaringan internet pita lebar di antariksa untuk pertama kali. Saat ini, baru SpaceX yang sudah mulai melakukan peluncuran untuk mewujudkan konstelasi satelit internet mereka, Starlink. SpaceX berencana satelit-satelit mini ini nantinya akan mengangkasa di seluruh dunia. Saat ini sudah ada 300 satelit mini yang mengorbit dari total 12 ribu satelit yang direncanakan. Investasi ini dilakukan Rakuten bekerjasama dengan operator telekomunikasi Jepang Vodafone. Keduanya mengguyur US$110 juta ke AST & Science. Sehingga total perusahaan itu mendapat guyuran dana US$128 juta untuk proyek yang mereka namakan SpaceMobile. Konstelasi internet ini akan menghubungkan smartphone ke satelit yang meyediakan koneksi internet untuk pertama kalinya. Pada awal peluncuan, SpaceMobile bakal menyediakan layanan 4G. Meski nantinya, konstelasi satelit ini bakal menyediakan jaringan 5G. "Investasi ini akan menjadi bagian strategi besar kami untuk menjadi operator perangkat mobile terdepan di Jepang," jelas Hiroshi Mikitani, pendiri dan bos Rakuten. Mengutip SpaceNews, selain Rakuten dan Vodafone, Samsung juga ikut mengucurkan investasi pada perusahaan tersebut lewat Samsung Next. Sebelumnya, perusahaan otomotif asal China, Geely Holding juga berencana membuat perusahaan yang mengembangkan konstelasi satelit internet serupa. Namun, satelit ini kabarnya dibuat untuk membantu pengembangan mobil otonom. Sebab, mobil otonom ini perlu menggunakan internet kecepatan tinggi dan responsif (latensi rendah). Dengan adanya konstelasi satelit ini, siapapun tetap bisa mendapat koneksi internet dimanapun. Mereka tak akan tergantung pada jangkauan sinyal yang dipancarkan oleh tiang-tiang BTS para operator. "Ketika Anda ada di gunung, safari Afrika, atau gurun, Anda akan tetap terkoneksi," jelas Tang Kum Chuen, Deputy President ST Engineering Electronics, perusahaan pembuat satelit asal Singapura seperti dikutip Nikkei Asian Review. Satelit komunikasi diharapkan bisa melengkapi jangkauan internet. Sebab, satelit bisa menjangkau wilayah yang lebih luas. Besarnya potensi pasar satelit internet ini telah memunculkan setidaknya 800 perusahaan satelit internet kecil dalam tiga hingga empat tahun belakangan, jelas Martin Sweeting, kepala group executive dari perusahaan satelit internet Satellite Technology. Baik Tang dan Sweeting memprediksi jaringan satelit telekomunikasi dan terestrial akan meroket dalam beberapa tahun mendatang. Tak cuma perusahaan kecil, perusahaan raksasa seperti Airbus pun ingin ikut bermain di industri ini. Pada 2015, perusahaan multinasional Eropa membentuk kerjasama dengan perusahaan Inggris OneWeb. Gabungan perusahaan ini akan membuat konstelasi 900 satelit untuk menyediakan internet. Sementara di Singapura, perusahaan startup satelit NuSpace bercita-cita mengoperasikan layanan serupa. Mereka akan menggunakan ratusan satelit mini dengan berat 4,5 kilogram saja. Satelit ini rencananya akan meluncur tahun depan. Sementara Starlink SpaceX rencananya akan mengoperasikan satelit internet mereka pada pertengahan 2020. Mereka menargetkan pengguna di area pedesaan di Amerika Serikat yang tak memiliki koneksi internet, seperti dikutip Business Insider. (eks)

Selengkapnya ...

Yang lain ...