Berbekal Bantuan Google, NASA Berhasil Temukan 8 Planet Baru

Tanggal: 18/12/2017

Jakarta - NASA baru saja mengumumkan telah menemukan delapan planet yang mengitari sebuah bintang utama, mirip dengan tata surya. Kali ini, badan antariksa Amerika Serikat itu dibantu kecerdasan buatan Google. Dikutip dari The Verge, Sabtu (16/12/2017), planet baru ini ditemukan berlokasi di sekitar Kepler-90, bintang mirip Matahari yang berjarak 2.500 tahun cahaya dari Bumi. Kepler-90 sendiri ditemukan pertama kali pada 2014. Lantas, bagaimana NASA menemukan delapan planet baru tersebut? Dengan kecerdasan buatan, para astronom mampu membaca sinyal 'lemah' dari data hasil tangkapan teleskop Kepler yang sebelumnya diabaikan. Sekadar informasi, para astronom biasanya memanfaatkan sinyal terkuat untuk dapat memproses sebuah temuan. Namun dengan bantuan kecerdasan buatan, kemampuan teleskop tersebut dapat lebih ditingkatkan. Jadi, kecerdasan buatan mampu memilah informasi dari sinyal lemah yang diterima oleh teleskop. Informasi itu kemudian diolah dan para astronom berhasil menemukan planet baru.  Sayangnya, meski memiliki formasi yang serupa Bumi dengan Matahari, sistem ini dianggap tak mendukung kehidupan. Alasannya, Kepler-90 sebagai bintang utama berukuran 20 persen lebih besar dan 5 persen lebih hangat dari Matahari. Tak hanya itu, posisi antara planet juga jauh lebih dekat ketimbang formasi planet dalam tata surya kita. Sebagai perbandingan, orbit seluruh sistem tersebut diperkirakan tak lebih dari jarak Bumi dan Bulan.

Kesempatan Menjajal Kecerdasan Buatan

Temuan Kepler-90i tak lepas dari langkah Google yang melatih algoritma machine learning besutannya untuk mengenali 15.000 sinyal dari planet potensial yang terdapat di database Kepler. Para ilmuwan lalu melatih sistem tersebut untuk bekerja dengan data dari 670 bintang yang sudah diketahui memiliki beberapa planet. Lokasi tersebut dipilih karena dianggap menjadi wilayah yang paling tersembunyi. Temuan planet yang berada di sekitar Kepler-90 sebenarnya bersamaan dengan penemuan sistem lain, yakni Kepler-80. Keduanya sama-sama merupakan hasil pencarian yang didukung oleh kecerdasan buatan Google. Kendati demikian, senior AI software engineer Google, Chris Shallue, menuturkan fungsi kecerdasan buatan dalam proyek ini tak perlu membuat khawatir manusia yang bekerja di bidang penemuan eksoplanet. "Apa yang kembangkan ini adalah untuk membantu para astronom mendapatkan dampak yang lebih besar. Cara ini dipakai untuk meningkatkan produktivitas para astronom, bukan menggantikannya," tuturnya.

(Dam/Cas)

Sumber : http://tekno.liputan6.com