Database Jadi Tantangan Mendigitalkan UMKM di Indonesia

Tanggal: 30/01/2017

Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara, menandatangani nota kesepahaman dengan Kementerian Perindustrian pada hari ini, Jumat (27/1/2017), menilai ada tantangan yang harus diselesaikan untuk mendigitalkan UMKM. Hal ini penting dilakukan karena UMKM adalah tulang punggung GDP Indonesia. Rudi awalnya memaparkan bahwa sumbangsih industri kecil menengah untuk ekonomi Indonesia sangat signifikan. Terlebih dari sejarah telah dibuktikan bahwa model bisnis adalah yang paling tahan banting di tengah krisis ekonomi.  â€œMemang kalau kita bicara UMKM secara ekonomi inilah yang paling tahan banting. Pada saat krisis 1998, pada 2008, gara-gara paper [bisnis] yang lain turun ekonomi dan omzet perusahaan turun, UMKM tetap saja. Dengan 57 juta [UMKM] itu memberikan kontribusi 56% pada Gross Domestic Product (GDP) kita sekira hampir Rp6.000 triliun dihasilkan UMKM,” kata dia. Namun sayangnya, tidak ada data yang lengkap mengenai 57 juta industri kecil ini. Mereka juga masih analog alias tradisional. Oleh karena itu, Kemenperin dan Kominfo membuat e-Smart untuk database dari seluruh UKM tersebut. “Tantangan dari UKM adalah database dari mereka. Kami dapat 1 juta (nama UKM) itu setelah kerjasama dengan BRI karena BRI maintain nasabah mereka yang dapat kredit usaha rakyat (KUR). Nah, ini tantangan kita karena kita tahu jumlah mereka 57 juta tapi kita enggak tahu namanya siapa, di mana, revenue per bulannya berapa, itu tidak ada,” lanjut Rudi. Lebih lanjut I Gusti Putu Suryawirawan, Dirjen Ilmate Kemenperin, menerangkan bahwa selama ini Kemenperin sudah memiliki data namun datanya masih bersifat analisis. Dia kemudian mengatakan bahwa database ini perlu direkayasa untuk kepentingan bisnis komersial. “Sebetulnya database sudah dikembangkan sejak beberapa tahun yang lalu tetapi kami gunakan untuk kepentingan administratif. Nah sekarang bagaimana kami bisa merekayasa itu untuk kepentingan komersial. Untuk kepentingan itu agak berbeda dengan kepentingan administratif. Jadi bagaimana kami mengintegrasikan itu karena rata-rata data itu berbentuk analisa statistik tantangannya bagaimana data-data itu kita gunakan untuk keperluan bisnis. Oleh karena itu, integrasi dengan berbagai marketplace misalnya Bukalapak mungkin menjadi practice kami untuk mulai melakukan itu,” pungkasnya.