Acara terkait

Bagaimana Cara Kerja Vaksin Covid 19 Sinovac

Tanggal: 28/02/2021

Bagaimana Cara Kerja Vaksin Covid-19 SinovacVaksin Covid-19 Sinovac seperti yang kita ketahui telah di lakukan secara bertahap, diantaranya tahap 1 pada 13 januari 2021, dimana mulai dari Presiden RI Joko Widodo Panglima TNI dan Kapolri hingga beberapa Influencer telah menerima Vaksin Covid-19 Sinovac. Yang kemudian disusul dengan tahap 2 pada 17 februari 2021Vaksin Covid-19 Sinovac bekerja pada tubuh manusia dengan menggunakan metode inactivated untuk membunuh virus covid-19. Vaksin ini menguatkan sistem kekebalan tubuh sehingga antibodi dapat melawan virus covid-19. Lalu senyawa yang berbasis aluminium yang bernama adjuvan akan merangsang sistem kekebalan tubuh untuk merespons vaksin. Begitu disuntikkan kedalam tubuh beberapa virus yang tidak aktif akan menjadi sel pembawa antigen dan merobek virus corona yang nantinya akan memunculkan beberapa fragment, lalu sel p dalam tubuh membantu untuk mendeteksi fragment yang ada, apabila menemukan kecocokan protein pada sel, maka sel p menjadi aktif, dan menjadikan sel kekebalan lain menjadi aktif. Sel b sebagai sel kekebalan lain mempunyai protein yang dapat menempel pada virus corona, sel p membantu mencocokkan fragment dengan sel b. Jika cocok sel b akan berkembangbiak dan menghasilkan antibodi untuk kekebalan tubuh. Setelah divaksinasi sistem kekebalan tubuh dapat merespons virus corona yang hidup dalam tubuh manusia.Penny K Lukito Kepala Badan Pengawas Obat Dan Makanan RI mengatakan bahwa hal ini sangat penting dan perlu diketahui oleh masyarakat indonesia untuk menciptakan Herd Immunity atau kekebalan komunitas. Sedangkan bahan baku vaksin covid 19 yang nantinya akan di proses menjadi vaksin oleh PT Biofarma Indonesia secara 2 tahap yaitu 15 juta dosis pada tanggal 12 januari dan 11 juta dosis pada tanggal 2 februari 2021 yang telah disahkan oleh bpom pada 16 februari 2021 pada kegiatan Emergency Use Authorization (EUA)Vaksin telah diuji oleh berbagai negara terbukti aman dan telah mendapatkan rekomendasi dari BPOM RI dengan efek samping bersifat ringan hingga sedang, yaitu diantaranya berupa nyeri, iritasi, pembengkakan serta efek samping sistemik berupa nyeri otot, dan demam. Editor : HasanPenulis : Hasan#wpitv#stmik#covid19#indonesiasehat

“GeNose” Teknologi Pendeteksi Covid 19 Karya Anak Bangsa

Tanggal: 28/02/2021

“GeNose” Teknologi Pendeteksi Covid -19 Karya Anak BangsaMerupakan alat yang diklaim memiliki tingkat akurasi tinggi yakni hingga 96% dalam mendeteksi covid – 19 di dalam tubuh manusia. GeNose C19 merupakan alat buatan Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk mendeteksi virus corona hanya melalui hembusan napas. Alat ini telah mendapat izin edar dari Kementerian Kesehatan.Cara kerja GeNose C-19, GeNose mendeteksi senyawa volatile organic compounds (voc) yang keluar melalui hembusan nafas. Senyawa voc dihasilkan oleh tubuh apabila seseorang terinfeksi virus / bakteri. Seseorang menghembuskan nafas ke rebreathing mask atau kantung nafas. Lalu nafas yang terkumpul dialirkan melalui selang ke hepafilter dan dihisap oleh mesin GeNose. Sample nafas akan dibaca sensor array dan akan membentuk pola khas. Selanjutnya pola akan dianalisis oleh machine learning untuk mendapatkan hasil tes, hasil tes dapat diterima setelah menunggu kurang lebih selama 3 menit. Pemeriksaan dilakukan 1 kali tanpa pengulangan. Sedangkan untuk biaya penggunaan alat GeNose ini di perkirakan hanya seharga Rp. 20.000 saja, dan pada tahap pre-launching akan di distribusikan di beberapa stasiun kereta api di Indonesia, untuk selanjutnya dipasarkan lebih luas ke seluruh daerah.Hadirnya produk karya anak bangsa untuk proses screening COVID-19 bernama GeNose diapresiasi banyak pihak. Namun di saat yang bersamaan juga menuai kritikan karena dinilai masih terlalu dini sebab masih dalam tahap uji lab. Dan perlu diketahui GeNose merupakan alat inovasi yang penggunaanya bukan untuk diagnostik, melainkan screening cepat COVID-19. Sedangkan untuk penanganan dan deteksi lebih lanjut yaitu dengan Tes PCR dan menggunakan Vaksin. Penulis : HasanEditor : Hasan#GeNose#wpitv#stmikwp#indonesiasehat

Bahaya “Oversharing” Pada Era Teknologi Informasi

Tanggal: 28/02/2021

Bahaya “Oversharing” Pada Era Teknologi InformasiEfek pandemi covid-19 menyebabkan terjadinya pembatasan sosial yang menimbulkan kurangnya interaksi secara fisik atau tatap muka pada kegiatan sehari – hari, untuk mengatasi hal tersebut banyak orang yang pada akhirnya menggunakan platform media sosial sebagai media berinteraksi, baik secara chat atau kirim pesan dan video call atau video conference.Namun semakin seringnya seseorang menggunakan media sosial maka semakin sering juga kegiatan berbagi info atau sharing yang terjadi melalui paltform tersebut, kegiatan ini disebut juga sebagai “oversharing”. Oversharing merupakan perilaku ketika seseorang memberikan terlalu banyak informasi detail tentang kehidupan pribadi atau orang lain yang tidak seharunya di publikasikan.Dilansir dari kompas tv, menurut analisis data dari perusahaan software yang berfokus pada bidang keamanan, Tessian, bahwa setiap minggunya 84% orang memposting kiriman di media sosial, 42% diantaranya berbagi tentang hobi, ketertarikan, hubungan, dan lokasi secara universal setiap harinya. Sedangkan separuh dari pengguna media sosial memposting foto dan nama anaknya, 72% diantaranya memberikan ucapan selamat ulang tahun, dan masih banyak kegiatan pribadi lainnya yang di posting secara publik.Padahal oversharing pada media sosial terkadang membahayakan diri kita sendiri, karena bisa saja data yang ada didalamnya disalahgunkan untuk peretasan, bahkan penipuan berbasis online. Maka supaya tidak disalahgunakan anda bisa mengamankan akun media sosial penjadi private dan menerapkan verifikasi dua langkah di akun media sosial serta membatasi postingan tentang kehidupan pribadi terlalu detail. Penulis : HasanEditor : Hasan#wpitv#stmikwp#jagaprivasi#cybersecurity

 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 >  Last ›